Postingan Populer

Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Cita-Cita Kartini: Berjuang untuk Islam

Kamis, 06 Desember 2012


TANGGAL 21 April adalah tanggal kelahiran Kartini. Bangsa Indonesia memperingatinya sebagai tonggak sejarah lahirnya seorang wanita Indonesia yang berjuang untuk kaumnya, wanita Indonesia. Namun, satu hal yang jarang diungkapkan, bahkan terkesan disembunyikan dalam catatan sejarah, adalah usaha Kartini untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, serta bercita-cita agar Islam disukai. Simak saja salah satu isi suratnya:
”Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya. Namun cahaya itu belum purna menyinarinya secara terang benderang, karena terhalang oleh tabir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini telah kembali kepada Pemiliknya, sebelum ia menuntaskan usahanya untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, seperti yang diidam-idamkannya: Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai” (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902).
Sosok Kartini bahkan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk kampanye emansipasi yang menyalahi fitrah wanita, yakni mendorong kaum wanita agar diperlakukan sederajat dengan kaum pria, diperlakukan sama dengan pria, padahal kodrat pria dan wanita berbeda, demikian pula peran dan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi ini.
Kian hari emansipasi kian mirip saja dengan liberalisasi dan feminisasi. Sementara Kartini sendiri sesungguhnya makin meninggalkan semuanya, dan ingin kembali kepada fitrahnya.
Perjalanan Kartini adalah perjalanan panjang. Dan dia belum sampai pada tujuannya. Jangan salahkan Kartini kalau dia tidak sepenuhnya dapat lepas dari kungkungan adatnya. Jangan salahkan Kartini kalau dia tidak dapat lepas dari pengaruh pendidikan Baratnya. Kartini sudah berusaha untuk mendobraknya.
Yang kita salahkan adalah mereka yang menyalahartikan kemauan Kartini. Kartini tidak dapat diartikan lain kecuali sesuai dengan apa yang tersirat dalam kumpulan suratnya : “Door Duisternis Tot Licht” yang telanjur diartikan sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Prof. Haryati Soebadio (cucu tiri Ibu Kartini) mengartikan kalimat “Door Duisternis Tot Licht” sebagai “Dari Gelap Menuju Cahaya” yang bahasa Arabnya adalah “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“. Kata dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyah) ke tempat yang terang benderang (hidayah atau kebenaran Ilahi), sebagaimana firman-Nya:
”Allah pemimpin orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpinnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya ke kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya” (QS. Al-Baqarah : 257).
Kartini yang dikungkung oleh adat dan dituntun oleh Barat, telah mencoba merintis jalan menuju benderang kebenaran Ilahi. Tapi anehnya, tak seorang pun melanjutkan perjuangannya. Wanita-wanita kini mengurai kembali benang yang telah dipintal Kartini. Sungguhpun mereka merayakan hari lahirnya, namun mereka mengecilkan arti perjuangannya.
Gagasan-gagasan cemerlang Kartini yang dirumuskan dalam kamar yang sepi, mereka peringati di atas panggung yang bingar. Kecaman Kartini yang teramat pedas terhadap Barat, mereka artikan sebagai isyarat untuk mengikuti wanita-wanita Barat habis-habisan.
KARTINI merupakan salah satu contoh figur sejarah yang lelah menghadapi pertarungan ideologi. Ia berusaha mendobrak adat, mengelak dari Barat, untuk mengubah keadaan. Dalam sebuah suratnya Kartini mengatakan: ”Manusia itu berusaha, Allah-lah yang menentukan” (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, Oktober 1900).
Simaklah kritik Kartini pada tradisi yang mengekangnya sebagaimana ditulisnya kepada Stella, 18 Agustus 1899:
”Adat sopan-santun kami, orang Jawa, amatlah rumit. Adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi… Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah…
Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut “kuda liar”
Peduli apa aku dengan segala tata cara itu … Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu …”
Menurut Kartini, setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk mendapat perlakuan sama. Kartini paham benar bahwa saat itu, terutama di Jawa, keningratan seseorang diukur dengan darah.
”Bagi saya hanya ada dua macam keningratan : keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya… (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899).
KARTINI lahir dari keluarga ningrat jawa. Ayahnya, R.M.A.A Sosroningrat, pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Teluwakur, Jepara.
Peraturan Kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan: R.A.A. Tjitrowikromo.
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Beliau adalah keturunan keluarga yang cerdas. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun.
Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang jenius dalam bidang bahasa. Dalam waktu singkat pendidikannya di Belanda, ia menguasai 26 bahasa: 17 bahasa-bahasa Timur dan 9 bahasa-bahasa Barat.
Kartini sendiri secara formal pendidikannya hanya sampai pada tingkat Sekolah Rendah. Tapi beliau dapat memberikan kritik dan saran yang jelas kepada kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu. Dengan nota yang berjudul: “Berilah Pendidikan kepada bangsa Jawa”, Kartini mengajukan kritik dan saran kepada hampir semua Departemen Pemerintah Hindia Belanda, kecuali Departemen Angkatan Laut (Marine).
Salah satu saran yang beliau ajukan kepada Departemen Kesehatan adalah sebagai berikut:
”Para dokter hendaklah juga diberi kesempatan untuk melengkapi pengetahuannya di Eropa. Keuntungannya sangat menyolok, terutama jika diperlukan penyelidikan yang menghendaki hubungan langsung dengan masyarakat. Mereka dapat menyelidiki secara mendalam khasiat obat-obatan pribumi yang sudah sering terbukti mujarab….”
KARTINI ingin menjadi Muslimah sejati. Ketika belajar mengaji (membaca Al-Quran), guru mengajinya marah ketika Kartini menanyakan makna kata-kata Al-Quran yang dibacanya.
“Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya?
Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran, tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu…. Tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?” (Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899).
Suatu ketika Kartini ”menguping” pengajian bulanan khusus anggota keluarga di rumah pamannya, seorang Bupati di Demak (Pangeran Ario Hadiningrat). Penceramahnya, Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang, mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah.
Selesai acara pengajian, Kartini menemui Kyai Sholeh. “Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” kata Kartini.
Setelah pertemuannya dengan Kartini, Kyai Sholeh tergugah untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran). Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya.
Saat mempelajari Al-Islam lewat Al-Quran terjemahan berbahasa Jawa itu, Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah: 257, bahwa Allah-lah yang membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minazh-Zhulumaati ilan Nuur). Rupanya, Kartini terkesan dengan kata-kata Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya.
Dalam banyak suratnya sebelum wafat, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “Dari Gelap Kepada Cahaya” ini. Karena Kartini selalu menulis suratnya dalam bahasa Belanda, maka kata-kata ini dia terjemahkan dengan “Door Duisternis Tot Licht”.
Setelah Kartini mengenal Islam sikapnya terhadap Barat mulai berubah:
“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902).
Kartini juga menentang semua praktek kristenisasi di Hindia Belanda:
“Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka Kristenisasi? …. Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?” (Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903).
Bahkan Kartini bertekad untuk memenuhi panggilan surat Al-Baqarah:193, berupaya untuk memperbaiki citra Islam selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah. Dengan bahasa halus Kartini menyatakan: “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902)
ORANG sering menjuluki Kartini sebagai pejuang emansipasi wanita. Benarkah? Simak saja petikan suratnya:
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].
Inilah gagasan Kartini yang sebenarnya, namun kenyataannya sering diartikan secara sempit dengan satu kata: emansipasi. Sehingga setiap orang bebas mengartikan semaunya sendiri.
Pada dasarnya, Kartini ingin berjuang di jalan Islam. Tapi karena pemahamannya tentang Islam belum menyeluruh, maka Kartini tidak mengetahui panjangnya jalan yang akan ditempuh dan bagaimana cara berjalan di atasnya.
Namun Kartini berjuang seorang diri, dengan segala keterbatasan. Ali bin Abi Thalib menegaskan: ”Kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir”. Wallahu’alam bish-shawab. (ASM. Romli. Sumber: media-isnet & swaramuslim).*

Daftar Nama Islami untuk Anak Putra & Putri

Islam memerintahkan agar para orang tua memberi nama anaknya dengan nama yang baik.
Seseorang datang kepada Nabi Saw dan bertanya, ” Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?” Nabi Saw menjawab, “Memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hatirnu).” (HR. Aththusi).
Hendaknya memberi nama (tasmiyah) dilakukan pada saat aqiqah, yaitu menyembelih dua ekor kambing untuk anak lelaki dan seekor kambing untuk anak perempuan.
”Setiap anak tergadai dengan (tebusan) akikahnya (seekor atau dua ekor kambing) yang disembelih pada umur tujuh hari dan dicukur rambut kepalanya (sebagian atau seluruhnya) dan diberi nama.” (HR. An-Nasaa’i)
Sebaliknya, Nabi menganjurkan agar kita memberi nama anak kita dengan nama Nabi, yaitu: Muhammad:
Dari Jabir bin Abdullah ra., ia berkata: ”Seseorang di antara kami mempunyai anak. Ia menamainya dengan nama Muhammad. Orang-orang berkata kepadanya: Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama Rasulullah Saw. Orang itu berangkat membawa anaknya yang ia gendong di atas punggungnya untuk menemui Rasulullah saw. Setelah sampai di hadapan Rasulullah saw. ia berkata: Ya Rasulullah! Anakku ini lahir lalu aku memberinya nama Muhammad. Tetapi, orang-orang berkata kepadaku: Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama dengan nama Rasulullah Saw. Rasulullah Saw. bersabda: Kalian boleh memberikan nama dengan namaku, tetapi jangan memberi julukan dengan julukanku. Karena, akulah Qasim, aku membagi di antara kalian. (HR. Muslim).
Haram menamakan anak dengan nama Allah, seperti Malikul Amlak dan Malikul Mulk (Raja Segala Raja) karena itu adalah nama Allah. Jangan memberi nama anak dengan nama-nama Allah.
Jika menggunakan nama/sifat Allah, misalnya Rahman, Rahim, Qodir, harus ditambah di awalnya dengan kata ”Abdul”, menjadi Abdurrahman, Abdul Qodir, dan seterusnya. Abdul artinya ”hamba”, jadi Abdurrahman –sebagai contoh—artinya ”Hamba Yang Maha Pengasih”.
”Nama yang paling disukai Allah adalah Abdullah (Hamba Allah) dan Abdurrahman (Hamba Yang Maha Pengasih).” [HR Muslim]
Berikut adalah contoh nama-nama yang Islami yang berasal dari bahasa Arab

Mosquita de Macau, Satu-Satunya Masjid di Macau


Kota Judi. Itu julukan populer Macau, sebuah “negara” kecil yang bertetangga sekaligus berstatus sama dengan Hong Kong sebagai wilayah administratif khusus (SAR, Special Administratvie Region) dalam negara China. Bedanya, Hong Kong bekas jajahan Inggris, Macau bekas jajahan Portugis.
Perjudian legal menumbuhkan kawasan peninggalan Portugis ini jadi kota yang sangat maju secara ekonomis dan gemerlap dalam segala hal. Casino bertebaran di seantero Macau.
Namun, di antara tempat-tempat judi, ada sebuah masjid, satu-satunya masjid di Macau, yakni Mosquita de Macau, di Ramal Dos Moros (Phone: (853) 28337273 Fax: (853) 337273).
Masjid itu menjadi markas (Head Office) Islamic Association. Dikenal pula sebagai pusat komunitas Muslim (Muslim Community Centre). Salah seorang imam masjid asal Timor Leste, Ustadz Yunus.
Letak Mosquita de Macau di ujung kota, jauh dari pusat keramaian. Suasana sehari-harinya sepi. Gerbangnya selalu digembok. Di balik gerbang itulah bangunan masjid seluas kira-kira 6,5 m x 12 m –lebih cocok disebut Mushola.
Masjid itu biasanya ramai hari Minggu. Sebagian besar jamaah masjid adalah pekerja asing, termasuk BMI/TKI. Seperti di Hong Kong, Minggu menjadi semacam “Hari Kemerdekaan” buruh migran. Mereka pun leluasa pergi ke mana saja. Pengajian untuk para pekerja Indonesia di Macau pun digelar di masjid ini.
Perantau Muslim Indonesia di Macau bisa berkunjung atau bergabung dengan Shelter MATIM, Majelis Ta’lim Macao (Al-Hasanah). Alamatnya di kawasan Rue de Silva. Jumlah perantau Indonesia di Macao ada sekitar 6.000 orang. Yang dibina oleh shelter sekitar 200 orang.
Organisasi lain yang membina perantau di Macao adalah Halimah. Dua organisasi inilah –MATIM dan Halimah—yang berperan membina rohani Islam dan lifeskill para perantau di Macao. Kedua organisasi menjalin hubungan erat dengan Dompet Dhuafa Hong Kong.
Shelter MATIM memusatkan kegiatan hari Minggu, “the perantau day”, hari libur umumnya para BMI. Dalam jadwal Ahad Shelter MATIM tertera rincian kegiatan, seperti tadarus Al-Quran, Iqra, kurus menjahit, dan kursus komputer. Di shelter ini pun ada koperasi dan perpustakaan.
Menurut catatan sejarah, Islam hadir di Macau sejak zaman Dinasti Ming. Pembawanya adalah para pedagang Arab dan Persia. Selama Perang Dunia II, etnis Muslim Hui memasuki Macau untuk menyelamatkan diri.
Diperkirakan jumlah Muslim “asli” Macau sekitar 400 orang lebih dari total penduduk Macau sekitar 1,2 juta jiwa. Kaum Muslim itu tergabung dalam organisasi “The Macau Islamic Society”.  Namun, jika digabungkan dengan perantau Indonesia, jumlah Muslim di Macau diperkirakan lebih dari 5.000 orang. Salah satu referensi Islam di Macau adalah website http://islaminmacau.com/.
Mavcau  terletak pada 70 km sebelah barat daya Hong Kong dan 145 km dari Guangzhou. Pemerintahan Portugal menyerahkan kedaulatan Macau kepada China tahun 1999. Penduduk Macau kebanyakan bertutur dalam bahasa Kantonis. Ada juga yang berbahasa Mandarin, Portugis, dan Inggris.  (Mel/ddhongkong.org. Data dari berbagai sumber).*

Muslim Amerika Dominasi Daftar 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia 2012


Muslim Amerika mendominasi daftar “500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia” (The World’s 500 Most Influential Muslims) versi Royal Islamic Strategic Studies Centre  Yordania. Dua di antaranya masuk dalam 50 besar.
Sheikh Hamza Yusuf Hanson, seorang ulama kelahiran California yang mendirikan Zaytuna College (perguruan tinggi Islam di Berkeley, California, dan merupakan otoritas Islam terkemuka di Amerika) berada di peringkat No 42, dua tingkat di depan Seyyed Hossein Nasr, seorang profesor studi Islam di George Washington University yang dikenal untuk karyanya dalam filsafat Islam.
Sekitar 3-5 juta Muslim Amerika adalah sebagian kecil dari 1,6 miliar lebih penduduk Muslim di dunia, tetapi mereka mengambil 41 tempat di daftar 500 Muslim paling berpengaruh di dunia itu.
Negara-negara dengan jumlah nama tokoh Muslim tertinggi berikutnya adalah Mesir, Pakistan, Arab Saudi, dan Inggris masing-masing 25 nama, diikuti oleh Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia dengan 24 nama.
“Dibandingkan dengan populasi Muslim global, representasi Muslim AS dalam daftar ini tidak proporsional, tetapi belum representatif dalam cara mereka membentuk wacana global,” kata Duke University Islamic Studi, Profesor Ebrahim Moosa.
Kompilasi tahunan ketiga daftar tokoh Muslim paling berpengaruh di dunia itu dibagi dalam 13 kategori, termasuk panduan spiritual, pembaca Al-Quran, ulama, politisi, selebritas, tokoh olahraga, dan para pemimpin media.
Daftar lima besar didominasi tokoh Muslim dari Timur Tengah. Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz, berada di peringkat pertama daftar tersebut, lalu PM Turki Recep Tayyip Erdogan (2), Raja Maroko Muhammad VI (3), pemimpin Ikhwanul Muslimin Mesir Dr. Muhammad Badie (4), dan Emir Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa (5).
Dalam daftar 20 besar, ulama kenamaan Sheikh Dr Yusuf Al-Qaradhawi berada di peringkat 16. Dari Indonesia ada Dr. K.H. Said Aqil Siradj (Ketua Umum PBNU) yang masuk di peringkat 19.
Tokoh Muslim Amerika yang masuk dalam daftar 50 besar antara lain:
— Kareem Abdul-Jabbar, pemain basket yang memegang skor tertinggi NBA dan legenda tinju Muhammad Ali.
— Umar Faruq Abdullah, seorang mualaf yang mendirikan Yayasan Nawawi, sebuah organisasi nirlaba pendidikan di Chicago
— Azizah Al-Hibri, chairwoman of Karamah: Perempuan Muslim Pengacara untuk Hak Asasi Manusia, diangkat tahun 2011 oleh Presiden Obama masuk dalam Komisi Kebebasan Beragama Internasional AS.
— Sheikh Muhammad Bin Yahya Al Husayni Al-Ninowy, imam di Masjid al-Madinah di Atlanta, dan keturunan putri Nabi Muhammad , Fatimah.
— Nihad Awad, direktur eksekutif Dewan Hubungan Islam Amerika (Council on American Islamic Relations /CAIR) di Washington, DC.
—Andre Carson dan Keith Ellison, dua Muslim Amerika yang menjadi anggota Kongres AS.
— Mohamed El-Erian, CEO perusahaan manajemen investasi global Pimco dan salah satu ekonom dunia yang paling dihormati
— Sheikh Yusuf Estes, mantan pendeta US Bureau of Prisons yang kini jadi da’i yang dikenal secara internasional
— Imam Mohamed Magid, presiden Islamic Society of North America (ISNA).
– Aasif Mandvi, aktor, sering muncul di ” The Daily Comedy”.
Daftar lengkap “500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia 2012” dapat didownload di http://themuslim500.com.

Masjid Juma, Masjid Tertua di Kaukasus Utara Rusia


Derbent adalah salah satu kota tertua di wilayah Republik Dagestan, Rusia. Kota yang memiliki sejarah panjang Islam di pegunungan Kaukasus. Sejarah panjang kota Derbent berkaitan dengan misi Islam yang berhasil menaklukkan Iran pada abad ke-7 masehi.
Setelah Islam menguasai wilayah Persia dan pegunungan kaukasus, dibawah komando Pemimpin Islam, Dagestan kemudian menjadi pusat penyebaran Islam di wilayah Kaukasus Timur laut. Termasuk wilayah Turki, Azerbaijan dan Rusia.
Pada tahun 733, tujuh masjid dibangun di wilayah ini. Salah satunya adalah Masjid Juma, masjid tertua yang hingga saat ini masih berdiri kokoh. Masjid Juma yang dibangun pada 115 Hijriah atau 733 masehi. Jasa Masjid ini luar biasa besar dalam melahirkan ulama-ulama muslim yang mendakwahkan Islam ke wilayah Rusia dan Kaukasia.
Para Masjid Juma terletak di tengah kota lama Derbent, yang telah menjadi ikon dari arsitektur kota kuno ini. Kelompok bangunan masjid juga terdiri dari madrasah dan beberapa rumah di mana para ulama tinggal.
Hingga 1300 tahun setelah berdirinya masyarakat masih bisa menikmati struktur asli dari masjid ini. sayangnya, perubahan politik menjadi sejarah kelam fungsi masjid sebagai tempat ibadah, pada tahun 1930 ketika Uni Soviet (USSR) menguasai wilayah ini.
Pemerintah Soviet yang komunis menjalankan kampanye anti agama. Pada tahun 1938, polisi rahasia Soviet (NKVD) menanggalkan semua atribut keislaman di Masjid Djuma dan menjadikan masjid sebagai penjara kota.
Namun, pada 1943 pemerintah Soviet mulai membuat keputusan lunak, dengan membolehkan umat Islam menjadikan kembali Masjid Juma seperti fungsi aslinya sebagai tempat beribadah kembali.
Saat ini, Masjid Djuma tetap berdiri dengan arsitektur aslinya dengan taman dan pohon rindang di lokasi masjid. Empat pohon besar berada disamping bangunan bermenara dan kubah ini. (Republika).*

Objek Wisata Terkemuka di Kota Mekah

Objek Wisata Terkemuka di Kota Mekah

jam raksasa mekahDaya tarik koka Mekah, Arab Saudi, bukan hanya karena ia tempat ibadah haji dan umroh. Sebagai kota kelahiran Islam dan para nabi, Mekah juga memiliki sejumlah objek wisata religi sangat menari. Nilai sejarahnya yang tinggi dan berdimensi religius menjadi nilai tersendiri bagi sejumlah objek wisata di kota kelahiran Nabi Muhammad Saw ini.
Tidak hanya tempat bersejarah, Mekah juga kini memiliki objek wisata baru yang modern dan futuristik, yaitu sebuah jam raksasa yang saat ini memegang rekor sebagai jam terbesar di dunia. Sebutannya banyak, mulai dari Giant Clock Tower Mekka, Abraj Al-Bait Towers, Menara Jam Raksasa, hingga Mecca Royal Hotel Clock Tower.
Jam Raksasa
Jam superbesar ini pasti menjadi objek wisata yang harus dilihat dan dikunjungi ketika berkunjung ke Mekah. Jam yang berada di puncak pencakar langit tertingi kedua setelah Burj Khalifa di Dubai ini mempunyai ketinggian 600 meter dengan diamater lingkaran jam 40 meter. Diameter ini mengalahkan jam Cevahir Mall di Istanbul yang hanya 36 meter.
Besar menara jam bermuka empat ini juga mengalahkan jam serupa yang saat ini dipegang menara Big Ben di London.  Jam ini juga akan menjadi salah satu ikon Arab Saudi karena bisa terlihat dari jarak yang cukup jauh yaitu lebih dari 25 kilometer.
Proyek yang menelan biaya US$ 800 juta ini dirancang oleh para insinyur Jerman dan Swiss. Bulan sabit emas yang sangat besar dengan diamater 23 meter dipasang ke atas puncak menara.  Penambahan menara jam di komplek Masjid Agung Mekah yang menjadi wajah Muslim di seluruh dunia ini merupakan bagian dari upaya Arab Saudi untuk mengembangkan kota yang dikunjungi oleh jutaan peziarah setiap tahunnya.*
Masjid Al-Haram
Ini tempat wajib didatangi, terutama jamaah haji dan umroh, karena ada rukun haji dan umroh di sini –mengelilingi Ka’bah (thawaf) dan berlari-lari kecil ((sa’i) antara bukit Shafa dan Marwah yang ada di kompleks majid.
Banyak hal di luar ibadah yang bisa dinikmati (dikagumi) di dalam masjid yang bernilai sejarah, terutama Ka’bah,  Hajar Aswad (Batu Hitam, The Black Stone) yang “menempel” di Ka’bah, Maqam Ibrahim (jejak kaki Nabi Ibrahim a.s.), Hijr Ismail (lokasi rumah Nabi Ismail a.s. sekaligus tempat dimakamkannya sang ibunda, Siti Hajar), Sumur Zamzam,  Mizabe Rahmah (kanal air zamzam), Multazam (tempat doa diijabah),
Jannatul Mualla
Pemakaman di Mekah yang dikenal juga dengan nama Al-Hajun. Disebut-sebut sebagai makam suci kedua setalah pemakaman Baqi di Madinah. Di Al-Hajun dimakamkan keluarga Nabi Saw a.l. Abdul Muthalib, Siti Aminah, Abu Thalib, Siti Khadijah, dan putra beliayu, Qasim.
Gua Hira – Jabal Nur
Gua Hira yang ada di lereng Jabal (Gunung) Nur ini tempat Nabi Saw menyendiri (khalwat) hingga menerima wahyu pertama.
Jabal Nur adalah salah satu dari deretan gunung berbatu yang mengelilingi kota Mekah. Letaknya di Timur Laut kota Mekah. Jaraknya sekitar 6 KM dari Ka’bah. Untuk mendaki bukit yang sepenuhnya terdiri atas susunan batu-batu tajam dan licin itu diperlukan waktu sekitar satu hingga 1,5 jam.
Gua Tsur – Jabal Tsur
Ada di Jabal Tsur atau Gunung Tsur. Ini tempat Nabi Saw bersembunyi bersama Abu Bakar dari kejaran kaum kafir Quraisy saat hendak hijrah ke Madinah.  Di Jabal Tsur yang tandus itu Rasulullah dan Abu Bakar berlindung selama tiga hari tiga malam.
Berjarak lima kilometer dari Kota Makkah, Jabal Tsur berupa barisan bukit batu dan merupakan perbukitan tertinggi di Mekah. Gunung Tsur memiliki tiga puncak yang bersambungan dan berdekatan. Di salah satu puncak Jabal Tsur itulah terdapat Gua Tsur.
Dulu banyak jamaah haji berupaya naik ke Jabal Tsur dan melihat Gua Tsur.
Namun, kondisi medan bukit yang terjal, serta waktu tempuh yang cukup lama, sekitar 2-3 jam untuk mencapai gua, membuat pemerintah Arab Saudi mengeluarkan larangan naik ke Jabal Tsur. Jamaah kini hanya bisa menyaksikan Jabal Tsur dari bawah bukit.
Badr
Perkampungan antara Mekah dan Madinah. Sebanyak 14 syuhada Perang Badr dimakamkan di wilayah ini. Dekat lokasi pemakaman syuhada Perang Badr ini ada Masjid Al-Arish. Di masjid inilah Nabi Saw dan para sahabat menunaikan shalat selama perang.
Gunung Uhud
Lokasi Perang Uhud yang membuat paman Nabi, Hamzah, gugur di dimakamkan di sini bersama syuhada lainnya. Kita bisa menaiki gunung yang tidak terlalu tinggi ini dan berziarah ke makam para syuhada Perang Uhud.
Jabal Rahmah
Jabal Rahmah yang berarti “gunung/bukit penuh rahmat” atau “gunung kasih sayang”. Di atasnya ada tugu sebagai tanda tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa. Dikisahkan, di bukit inilah Nabi Adam dan Hawa bertemu setelah 100 tahun diturunkan dari langit ke bumi.
Ada keyakinan, tempat ini merupakan “tempat terbaik” untuk berdoa meminta jodoh. Dikatakan, apabila seseorang berdoa di atas bukit ini untuk meminta pendamping hidup, niscaya doanya dikabulkan Allah. Wallahu a’lam.
Suquq Lail – Tempat Lahir Nabi Saw
Rasulullah Saw diyakini lahir di kaki Gunung Abi Qubais di kampung Suqul-Lail, Makkah. Kini rumah tempat kelahiran beliau itu menjadi perpustakaan umum. Tertulis di depannya huruf Arab “Maktabah Makkah al-Mukarramah” yang artinya “Perpustakaan Mekkah al-Mukarramah”.
Tempat ini dulunya dikenal dengan “Lembah Abu Thalib”. Ketika Nabi Saw hijrah ke Madinah, rumah ini ditinggali oleh Aqil bin Abi Thalib yang kemudian didiami oleh anak turunannya. Selanjutnya rumah itu dibeli oleh Khaizuran, ibu Harun Arrasyid, dan dibangun sebuah masjid. Lantas masjid tersebut dibongkar dan sempat tempat itu terbengkalai.
Pada tahun 1950, tempat lahir Nabi Saw itu dijadikan wakaf perpustakaan atas permintaan Sheikh Abbas Al-Qattan yang menjabat sebagai Gubernur Makkah saat itu. Permintaannya disetujui oleh pemerintah Saudi dengan syarat wakaf ini tidak bisa dijual-belikan atau disewakan, atau tidak bisa dihadiahkan kepada siapapun, atau tidak bisa ditukar atau dipinjamkan kepada siapa pun.
Pasar Seng: Tinggal Kenangan
Pasar ini sangat dikenal oleh jamaah haji Indonesia. Sayangnya, kini pasar dekat Masjid Haram ini tinggal kenangan karena tergusur oleh proyek perluasan Masjid Haram.
Dulu pasar ini tempat belanja yang paling terkenal di Mekah. Orang Indonesia menyebutnya Pasar Seng, meskipun tak satu pun penduduk Mekah yang mengenal nama itu. Orang Mekah menyebut itu sebagai Pasar “Mudda’ah”.
Konon, pasar itu sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Awalnya tempat itu menjadi lokasi lomba membaca syair (puisi). Lama-kelamaan tempat keramaian itu menjadi pasar dan tetap ramai dikunjungi, terutama di musim haji.
Dahulunya pasar ini beratap seng, sehingga disebut Pasar Seng. Suasana pasar itu mirip pedagang kaki lima di Tanah Air. Barangnya pun mirip aneka ragam barang di Pasar Tanah Abang, seperti mukena, kerudung, dan sajadah.
Kini cerita keramaian dan keunikan Pasar Seng tinggal kenangan. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sudah membongkar areal sekitar Masjid Haram guna perluasan kawasan masjid.

Hukum Menyingkat Gelar “Saw” Nabi dan “Swt” Allah

 
Tanya : Assalamualaikum, Saya ingin mengajukan pertanyaan. Bagaimana hukum menyingkat gelar kepada Nabi atau kepada Allah, seperti Muhammad saw dan Allah swt. Terimakasih.
Jawab : Wa’alaikumussalam wr. wb. Saya tidak menemukan nashsh –baik al-Qur’an maupuh Hadis– yang secara tegas (sharîh) melarang menyingkat tulisan subhânahu wa ta‘âlâ menjadi SWT. (atau swt.) dan shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjadi SAW. (atau saw.). Saya juga belum menemukan nashsh yang secara tegas mengharuskan untuk menulis ucapan tersebut secara panjang apa adanya.
Sejumlah pakar tafsir yang tergabung dalam Tim Penyusunan Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI yang saat ini sedang menggarap penyusunan tafsir tersebut dalam salah satu pertemuannya sepakat untuk menulis subhânahu wa ta‘âlâ dengan singkatan SWT. dan shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjadi SAW. dalam buku tafsir ringkas yang sedang disusun. Itu lebih karena alasan-alasan teknis.
Di dalam Mushaf al-Qur’an sendiri, kita juga menemukan sejumlah tulisan yang disingkat. Tanda-tanda waqf (perhentian), misalnya. Ada huruf mîm (م) yang merupakan singkatan dari lâzim: harus berhenti. Artinya, pada ayat yang bertanda م, kita harus berhenti. Ada huruf jîm (ج) yang merupakan singkatan dari jâ’iz: boleh berhenti, boleh teruskan. Ada huruf lâm alif (لا) yang berarti larangan (‘jangan’): kependekan dari jangan berhenti pada ayat yang bertanda itu. Ada shâd lâm yâ (صلى) yang merupakan singkatan dari al-washlu awlâ: terus membaca (tidak berhenti) lebih utama daripada berhenti, meskipun berhenti juga tidak dilarang. Ada lagi qâf lâm yâ (قلى) yang merupakan singkatan dari al-waqfu awlâ: berhenti lebih utama meskipun kalau kita tidak berhenti juga boleh. Dan sebagainya. Jadi, sekali lagi, ini lebih menyangkut persoalan teknis.
Di dalam literatur-literatur klasik Islam berbahasa Arab, kita juga tidak jarang menemukan tulisan shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam bentuk singkatan. Ada yang hanya dilambangkan dengan satu huruf (shâd), ada yang dengan empat huruf (shâd, lâm, ‘ain, dan mîm). Demikian pula dengan radhiyallâhu ‘anhu yang sering disingkat dengan satu huruf (dhâd). Ulama-ulama dahulu yang menulis singkatan seperti itu, saya percaya, bukan orang yang bodoh!
Memang ada sebagian ulama kontemporer yang melarang penyingkatan seperti itu, dengan dalih ucapan-ucapan seperti itu adalah doa yang tidak seharusnya disingkat.
Hemat saya, sejauh kita (jika sebagai penulis) tidak bermaksud mengaburkan subtansi dari singkatan-singkatan seperti itu, dan sejauh kita (sebagai pembaca) membacanya atau melafalkannya secara lengkap, penulisan singkatan seperti itu sah-sah saja karena alasan pertimbangan teknis tadi. Apalagi memang tidak ditemukan larangannya. Karena, hal itu tidak mengurangi substansi dari kalimat-kalimat itu.
Kita, misalnya, ketika membaca tulisan “Rasulullah saw.” tetap membacanya dengan “Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam” secara utuh. Tulisan “Assalamualaikum wr. wb.” juga kita baca lengkap “Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh”. Dengan begitu, kandungan doa yang terdapat dalam ucapan-ucapan itu tetap kita baca utuh walaupun tulisannya singkat.
Demikian, wallahu a’lam.
[Muhammad Arifin - Dewan Pakar Pusat Studi Al-Quran]
Sumber: http://alifmagz.com/?p=17344

Kunci-Kunci Kebahagiaan: Perspektif Islam

Kunci-Kunci Kebahagiaan: Perspektif Islam

1. Iman kepada Allah dan beramal shaleh.
“Siapa saja yang beramal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman maka Aku akan hidupkan mereka dalam kehidupan yang baik.” (An-Nahl:97)
“Siapa saja beriman kepada Allah dan hari Akhir serta beramal shaleh mereka tidak pernah takut dan tidak pernah bersedih.” (Al-Maidah: 69).
“Sungguh mengherankan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya segala urusannya baginya memberikan kebaikan, hal ini tidak dimiliki oleh seorangpun melainkan oleh seorang mukmin. Bila mendapatkan harta atau kesuksesan selalu bersyukur maka jadilah itu kebaikan baginya dan bila mendapatkan kesengsaraan dia selalu bersabar dan itupun menjadikan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Pengaruh iman dalam kehidupan sangat mnyata sekali. Ketika diinterogasi di Damaskus dengan berbagai bentuk penyiksaan yang keji, Ibnu Taimiyah Rahimahullah malah mengatakan: “Apa yang diperbuat musuh-musuhku itulah surgaku, penjara bagiku adalah tempatku menyepi dan penyiksaan terhadapku itulah syahadahku (syahidku), sedang pengusiran terhadapku itulah tamasyaku.” Ucapan ini tentu tak akan keluar kecuali dari seorang yang benar-benar telah menghunjam kuat imannya di dalam dada.
2. Beriman kepada Qadha dan Qadar
Qadha dan qadar, baik buruknya semua adalah datang dari Allah.  Ketahuilah, bila ada musibah menimpa dirimu maka itu bukanlah karena kesalahanmu, dengan kata lain, kesalahan yang kamu lakukan tidak mesti menyebabkan musibah bagimu di dunia. Karena semua telah ada dalam ketentuan Allah Ta’ala. Ridha dengan bagian rezki dari Allah dan menerima berbagai kemungkinan yang bakal ditimpakan Allah padanya.
Maka, siapa saja yang tidak beriman kepada qadha dan qadar dia pasti hancur. Sebagai contoh karena keimanan kepada qadha dan qadar adalah kisah Urwah bin Zubair. Kaki beliau terkena penyakit kanker sehingga harus diamputasi (dipotong). Keadaan itu beliau terima dengan tabah. Ketika dokter menyarankan agar beliau minum khamar agar mengurangi rasa sakit saat diamputasi beliau menolak.
Beliau berkata, aku tunjukkan cara lain, yakni tatkala aku sedang shalat maka kerjakanlah apa yang anda inginkan, karena hati, tatkala sedang bergantung kepada Allah maka tidak akan merasa dengan apa yang sedang mengenai dirinya. Benar, tatkala Urwah sedang bertakbir dan shalat, operasipun dilakukan, beliau tidak bergerak sedikitpun dan amputasi itu pun berhasil dengan baik. “Allahu Akbar”. Itulah buah iman yang sungguh-sungguh kepada qadha dan qadar.
“Dan tidak akan diberikan sifat itu kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak diberikan melainkan kepada orang yang mempunyai kebahagiaan”. (Fushilat: 35)
3. Faham Ilmu Syariat
Para ulama yang mengenal Allah, merekalah orang-orang yang berbahagia. Mereka tidak memikirkan kecuali tentang berbagai ilmu yang diberikan Allah padanya.
Abu Al Hasan Az Zahid, karena keberaniannya menentang penguasa zhalim Mesir di masanya, Ahmad Toulun maka ia dimasukkan ke dalam kerangkeng singa.
Seketika, singa yang lapar itu meraung dan mendekat. Abu Al Hasan tetap tenang duduk, tidak bergerak dan tidak mempedulikan. Orang-orang yang menyaksikan sudah tampak tegang. Ada yang ketakutan karena pemandangan yang amat mengerikan bahkan ada yang sampai menangis. Singa itu maju mundur mendekatinya, kadang meraung lalu diam. Sesudah itu, ia mengangguk-anggukkan kepalanya, mendekat kepada Abul Hasan lalu menciumnya dan pergi tanpa berbuat apa-apa.
Orang-orangpun spontan berteriak dengan takbir dan tahlil. Apa yang lebih hebat dari itu? tatkala Ibnu Toulon bertanya kepada Abu Al Hasan tentang apa yang ada di dalam benaknya ketika itu ia menjawab: “Aku berfikri tentang air liur singa tersebut, seandainya mengenaiku. Apakah najis atau tidak?” Apa kamu tidak takut kepada singa?, tanya Ibnu Toulon.
“Tidak, karena sesungguhnya Allah melindungiku”. Inilah kebahagiaan yang nyata, yang dihasilkan oleh iman dan ilmu yang bermanfaat. Inilah kelapangan yang selalu diburu oleh setiap manusia.
4. Banyak Dzikir dan membaca Al Qur’an
“Ketahuilah dengan dzikir kepada Allah akan tenanglah hati.” (Ar Ra’d: 28)
Orang yang selalu dzikir dan ingat kepada Allah akan bahagia dan tenang hatinya. Sedangkan orang yang berpaling dari ingat kepada Allah maka ia akan hidup dalam kesusahan dan kesedihan.
“Dan, siapa saja yang berpaling dari ingat kepada Tuhan (Allah) yang Pemurah niscaya kami tentukan baginya setan maka jadilah ia teman yang tidak terpisah baginya.” (Az Zukhruf: 36).
“”Dan siapa saja yang berpaling dari dzikir (ingat) kepada Aku maka adalah baginya penghidupan yang sempti dan kami akan kumpulkan dia pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha: 124)
“Maka, kecelakaan bagi mereka yang beku hatinya dari mengingat Allah Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (Az Zumar: 220)
Dalam Al Qur’an banyak ditemukan ayat-ayat yang membicarakan kedudukan hati yang lapang, di antaranya:
“Tuhanku, lapangkanlahn dadaku”. (Thaha: 25)
“Bukankah Aku telah lapangkan bagimu dadamu?” (Al Insyirah: 1)
“Siapa saja yang Allah menghendaki akan memberikan padanya hidayah, niscaya Allah akan lapangkan dadanya untuk menerima islam.” (Al An’am: 125)
“Maka apakah yang Allah lapangkan dadanya untuk memeluk islam yaitu orang yang berjalan atas nur dari Tuhannya sama dengan yang beku hatinya?” Kelapangan dada dan mencarinya termasuk tanda-tanda kebahagiaan dan sifat orang-orang yang berbahagia.
5. Berbuat Baik kepada Manusia
Ini adalah fakta. Orang yang suka berbuat baik kepada manusia dialah orang yang paling berbahagia, serta yang paling diterima hidupnya di atas bumi.
6. Memandang urusan dunia lebih rendah daripada urusan Akhirat.
Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda: “Lihatlah orang-orang yang di bawah kamu dan janganlah kamu melihat kepada orang yang lebih tinggi dari kamu. Maka hal itu akan lebih pasti untuk meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim).
Ini adalah dalam urusan keduniaan, karena bila kita ingat ada orang yang lebih rendah dari kita maka kita akan mengetahui betapa besar nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Adapun dalam urusan akherat, maka hendaknya kita melihat kepada orang-orang yang lebih tinggi dari kita, agar kita sadar akan kelemahan dan kekutangan kita. Jangan kita melihat orang yang hancur dan sebab-sebab kehancurannya, tetapi lihatlah orang yang selamat, dan bagaimana keselamatan itu diraih.
7. Tidak tamak dunia dan selalu siap mati.
Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah pernah berkata: “Hidup itu pendek, oleh karena itu janganlah dipendekkan lagi dengan lamunan dan perbuatan dosa.” Benar, bahwa hidup ini sangatlah pendek, oleh karena itu kita harus tidak menambah kependekan itu ini dengan kebencian, angan-angan yang jahat dan perbuatan dosa.
8. Yakin kebahagiaan hakiki bagi seorang mukmin adalah di akherat, walaupun di dunia tidak bahagia.
Allah berfirman: “Adapun orang-orang yang berbahagia maka dalam SurgaKu lah mereka, keadaan mereka kekal padanya selama langit dan bumi dikehendaki oleh Tuhanmu sebagai suatu pemberian yang tidak putus.” (Hud: 108).
Rasul Saw. bersabda: “Dunia ini penjara bagi mukmin dan Surga bagi orang kafir.” Tentang hadits ini ada kisah menarik dari Ibnu Hajar Al Asqalani. Suatu ketika beliau yang tampak berseri-seri dicegat oleh seorang Yahudi yang sedang dilanda kesedihan hebat.
Orang Yahudi itu bertanya: “Bagimana anda menafsirkan ucapan Rasul Saw. Dunia ini penjara bagi orang mukmin dan Surga bagi orang kafir? Kini anda tahu, aku dalam keadaan sedih, sedangkan aku kafir dan anda dalam keadaan bahagia, sedangkan anda mukmin?”.
Ibnu Hajar menjawab: “Anda dengan kesedihan dan kemiskinan termasuk berada dalam Surga dibandingkan akheratmu yang penuh dengan siksa yang pedih (kalau kamu nanti mati dalam keadaan kafir). Sedangkan aku (seandainya Allah memasukkan aku ke dalam Surga) maka dengan kesenangan dunia ini termasuk penjara dibandingkan dengan kenikmatan yang sedang menungguku di Surga.”
Orang Yahudi itu menjawab: “Apakah demikian?” Ibnu Hajar menjawab: “Ya.” Maka orang itu pun menyatakan: “Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.”
 9. Bersabahat dengan Orang Shaleh
Pengaruh kawan sungguh sangat besar. Karena itu Nabi Saw. bersabda: “Perumpamaan teman yang baik dengan teman yang buruk adalah laksana pembawa minyak dan pekerja pandai besi.”  (Muttafaq Alaih)
10. Yakin perbuatan jahat orang lain akan menjadi kebaikan bagi dirinya maka maafkanlah dia.
Ibrahim Ataimi berkata: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki mendzhalimiku maka aku mengasihinya.”
Diriwayatkan ada beberapa ulama dan juga banyak orang yang berbuat jahat kepada Ibnu Taimiyah, sehingga beliau dipenjarakan di Iskandariyah. Setelah keluar dari penjara ada yang bertanya, “Adakah kamu ingin membalas orang yang berbuat jahat padamu?”, Beliau menjawab, “Aku bebaskan siapa saja yang telah berbuat zhalim kepadaku dan aku maafkan”.
Ibnu Taimiyah telah membebaskan semuanya karena beliau tahu hal itu akan membuatnya bahagia di dunia dan akherat. Seorang salaf mendengar ada seorang yang ghibah atas dirinya. Maka orang salaf tadi memilih suatu hadiah yang menarik. Pergilah ia kepada orang yang berbuat ghibah itu dan diberikannya hadiah tadi. Ketika ditanya tentang sebab pemberian hadiah itu, ia menjawab, Rasulullah Saw. bersabda: “Siapa saja yang berbuat kebajikan atasmu maka berilah dia imbalan”.
“Sesungguhnya anda telah memberikan hadiah kepadaku dari kebajikanmu sedangkan aku tidak punya kebajikan yang dapat aku berikan padamu kecuali kebaikan dunia. ”  Maha Suci Allah.
11. Berbicara baik, hapuslah perbuatan buruk dengan berbuat kebajikan.
“Dan tidak sama antara kebajikan dan keburukan. Tolaklah keburukan itu dengan sesuatu yang lebih baik.” Coba renungkan wahai saudaraku, pengarahan Tuhan yang agung kepada orang yang beriman: “Dan tatkala mereka lewat di hadapan permainan dia lewat dengan penuh kemuliaan.”  (Al Furqan: 72)
12. Selalu Kembali kepada Allah dan Berdo’a kepada-Nya
Rasul Saw. telah meneladankan semua itu di antaranya beliau berdo’a: “Ya Allah perbaikilah aku dalam beragama karena dengan agama itu menjadi ishmah bagi segala urusanku, perbaikilah pula duniaku yang merupakan penghidupanku. Perbaiki pula akheratku yang akan menjadi tempat kembaliku, jadikanlah hidup ini tambahan bagiku dengan berbagai kebaikan serta jadikanlah kematianku sebagai tempat istirahatku dari segala keburukan.” (HR. Muslim, 17/40)
Beliau juga senantiasa berdo’a: “Ya Allah rahmatMu aku harapkan. Janganlah Engkau tanggungkan (kehidupan ini) kepada diriku sendiri, meski hanya sejenak, dan perbaikilah seluruh keadaanku semuanya, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau”.
Mudah-mudahan kita mendapat kebahagiaan yang sesungguhnya, bukan angan-angan juga bukan sekedar pembicaraan. Dan kepada Allah lah segala urusan kita kembalikan. Wasalam.

Bahaya Utang

Nabi Muhammad Saw selalu meminta perlindungan kepada Allah  dari banyak utang  dengan doanya:  Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghrom (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang) (HR. Bukhari dan Muslim).
“Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan utangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi).  Yang dimaksud “urusannya masih menggantung”  adalah tidak bisa kita katakan ia selamat atau sengsara sampai dilihat utangnya tersebut lunas atau tidak. Hadits ini dorongan agar ahli waris segera melunasi utang yang meninggal dunia.
“Siapa saja yang berutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah).
“Jika orang yang berutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.” (HR. Bukhari).
“Sesungguhnya yang paling di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar utang.” (HR. Bukhari).
“Jika seorang muslim memiliki utang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi utang tersebut, maka Allah akan memudahkannya untuk melunasi utang tersebut di dunia”. (HR. Ibnu Majah dan An -Nasai).
“Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berutang (yang ingin melunasi utangnya) sampai dia melunasi utang tersebut selama utang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah). Wallahu a’lam. (Abu Faiz, dari berbagai sumber).*

Jumlah Muslim di Seluruh Dunia Mencapai 2,1 Milyar

Jumlah Muslim di seluruh dunia tahun 2012 mencapai 2,1 milyar. Setidaknya itulah data www.muslimpopulation.com sebagaimana gambar di bawah ini. Populasi Muslim meningkat 1,84%.
pendudukmuslimdunia
Pew Research Center’s Forum on Religion & Public Life memperkirakan populasi Muslim akan tumbuh mencapai 35 persen dari total populasi dunia pada 20 tahun mendatang.
Jika pada 2010 jumlah pemeluk Islam mencapai 1,6  miliar jiwa, maka pada 2030 akan mencapai 2,2 miliar jiwa.
Menurut lembaga itu, pertumbuhan jumlah umat Islam dua kali lebih besar dibandingkan non-Muslim pada dua dekade mendatang.
Jika pertumbuhan jumlah umat Islam rata-rata mencapai 1,5 persen, maka non-Muslim hanya 0,7 persen.
Direktur Islamic Center Southern California, Imam Jihad Turk, menilai, ada dua faktor yang menyebabkan populasi muslim meningkat pesat, pertama adalah angka kelahiran tinggi di kalangan umat Islam. Dan kedua,  berbondong-bondongnya non-Muslim memeluk Islam.
“Tingkat kelahiran merupakan faktor utama yang memberikan sumbangsih. Faktor konversi lebih banyak karena pernikahan,” katanya  seperti dikutip neontommy.com (8/5). (www.muslimtoday.net)

Dajjal Menjadi Maskot Olimpiade London 2012

Maskot Olimpiade London 2012
Logo Mata Satu Dajjal menjadi maskot Olimpiade London Inggris 2012. Logo mata satu selama ini dipakai sebagai simbol gerakan Zionis Yahudi untuk menguasai dunia dalm segala hal dari mulai ekonomi, politik, media, olah raga, film, kartun, dan lain-lain untuk menhancurkan umat Islam serta umat lain. Organisasi zionis Yahudi ini bernama Freemansori, Iluminati
Sejauh mana keterkaitan antara Dajal dan Yahudi, yang kini antara lain direpresentasikan oleh gerakan zionisme internasional, dijelaskan dalam Hadis Rasulullah berikut:
“Maka apabila Dajal sudah terbunuh, orang Yahudi pun menjadi hancur lebur barisannya, yakni sama-sama berperang untuk membela Dajjal dan jumlahnya mencapai puluhan ribu. (HR Imam Ibnu Majjah).
Hadis itu mengisyaratkan bahwa Dajjal dan para pengikutnya adalah kaum Yahudi itu sendiri.
Logo Dajjal Mata Satu (Horus Eye/All Seeing Eye) dimodi dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tampak menarik, lucu, dan disukai oleh semua orang yang akan dengan mudah terhipnotis atau tanpa sadar menerimanya serta tidak mengecek apa yang berada di balik penggunaan simbol-simbol tersebut dalam film2 kartun hingga kompetisi olahraga.
Untuk mengubur kecurigaan masyarakat dunia tentang maskot yang diberi nama Wenlock dan Mandeville itu, mereka berdalih bahwa simbol tersebut menampilkan dua tetes baja dari industri baja di Bolton sebagai simbol semangat. Padahal itu semua hanya ilusi guna merekayasa pandangan dunia.
Satu lagi pesan tersembunyi yang tertera di gambar maskot tersebut adalah adanya logo yang bertuliskan london beserta lambang klasik cincin olimpiade. Namun sesungguhnya jika kita jeli maka akan didapatkan sebuah anagram yang akan menampilkan maknanya.
Jika kita memecah logo ini menjadi kepingan puzzle, maka akan kita dapatkan sesuatu yang bertuliskan: ZION.
Berikut beberapa penjelasan hadits tentang Dajjal dan Bahayanya
Setiap nabi yang diutus kepada suatu kaum pasti ia memperingatkan umatnya akan bahaya ‘Si Mata Satu pembuat kebohongan’. Ketahuilah, matanya buta sebelah, sedangkan ‘Rabb’ kalian tidak buta sebelah. Dan, di antara kedua matanya tertulis ‘ Kafir’.
Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim di atas memperingatkan kita akan bahaya Dajjal. Dajjal, menurut Dr Yusuf Qordhowi dalam kitab Sunnah Rasul, adalah sosok yang digunakan Allah SWT untuk menguji hamba-hamba-Nya pada masa-masa fitnah, untuk mengetahui siapa yang benar-benar mengikuti Rasul dan siapa yang kemudian berbalik dari mengikutinya.
Makna Dajjal sendiri memiliki multiinterpretasi, begitu juga konotasi ”mata satu”. Ada yang mengatakan Dajjal itu lahir dalam bentuk fisik manusia dengan ciri utama bermata satu (cacat sebelah atau picek). Ada juga yang mengatakan Dajjal itu ”satu pandangan” yang eksklusif tanpa toleransi dan menghiraukan pandangan orang lain. Namun, ada juga yang menafsirkan Dajjal sebagai teknologi, yakni kiblat peradaban Barat modern yang mengandalkan ”mata akal” tanpa mempedulikan ”mata hati” atau ajaran Ilahi.
Terlepas arti mana yang paling sesuai dengan hakikatnya, yang terpenting bagi kita adalah upaya menghindari tipu muslihatnya, baik dari manusia picek yang suka berbohong, atau dari ”pandangan” eksklusif yang radikal, atau dari buaian teknologi yang amat memukau. Sebagaimana diceritakan oleh sahabat Hudzaifah, di antara kemahiran tipu muslihat Dajjal adalah kemampuannya ”menyulap” kebenaran dengan kebatilan (dan sebaliknya).
Hudzaifah mengisahkan, Dajjal keluar membawa air dan api.
Yang dilihat manusia sebagai api, sebenarnya air. Sedangkan apa yang dilihat manusia sebagai air, sebenarnya adalah api. Rekayasa Dajjal semakin sempurna karena bersamanya ada dukungan materi yang melimpah. Sahabat Mughirah berkata, ”Bersamanya ada gunung roti dan sungai air.”
Melalui dua senjata utama itu (tipu muslihat dan iming-iming materi), Dajjal dikisahkan hadir di masa-masa fitnah. Sebuah masa yang tepat, sehingga Dajjal berhasil menyedot massa yang tidak sedikit, yang segera akan digiring ke dalam surganya (baca: neraka-Nya). Diceritakan, mayoritas pengikut Dajjal adalah mereka yang tidak memiliki furqon (kemampuan memilih antara hak dan batil).
Oleh karenanya, Rasulullah saw memberi teladan kepada kita dengan berdoa kepada Allah SWT dari fitnah Dajjal. Doa ini lebih sering diucapkan Rasulullah dalam tasyahud akhir menjelang salam. Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam, dari fitnah kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari fitnah al-masikh ad-Dajjal (HR Muslim dari Anas dan Abu Hurairah).*